Minggu, 30 Mei 2010

mengenal tiga tanda kematian..


Oleh Imam Nur Suharno

Dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya'kub AS. Suatu ketika Nabi Ya'kub berkata kepada malaikat maut. "Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita."

"Apakah itu?" tanya malaikat maut. "Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku." Malaikat maut berkata, "Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku." Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.

Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya'kub. Kemudian, Nabi Ya'kub bertanya, "Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"

"Aku datang untuk mencabut nyawamu." Jawab malaikat maut. "Lalu, mana ketiga utusanmu?" tanya Nabi Ya'kub. "Sudah kukirim." Jawab malaikat, "Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'kub, itulah utusanku untuk setiap bani Adam."

Kisah tersebut mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan bungkuknya badan. Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya. Karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi utusan tersebut.

Kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia sebagaimana yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).

Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran [3]: 102).

Tidaklah terlalu penting kita akan mati, tapi yang terpenting adalah sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu. Rasulullah SAW mengingatkan agar kita bersegera untuk menyiapkan bekal dengan beramal saleh. "Bersegeralah kamu beramal sebelum datang tujuh perkara: kemiskinan yang memperdaya, kekayaan yang menyombongkan, sakit yang memayahkan, tua yang melemahkan, kematian yang memutuskan, dajjal yang menyesatkan, dan kiamat yang sangat berat dan menyusahkan." (HR Tirmidzi).

Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, "Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS Al-Baqarah [2]: 197).







resep berani menghadapi mati..


Oleh Dr H Mujar Ibnu Syarif MAg

Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un. Indonesia kembali berduka. Dalam satu minggu terakhir ini bangsa dan negara Indonesia kehilangan dua orang putra dan putri terbaiknya. Pertama, Gesang Martohartono, sang maestro atau komponis kawakan Indonesia pada Kamis (20/5).

Kedua, mantan ibu negara, Ny Hasri Ainun Habibie, almarhumah istri tercinta mantan presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang wafat pada Sabtu (23/5). Kematian merupakan suatu keniscayaan, yang pasti akan datang menjemput setiap makhluk yang bernyawa. Dan ketika jadwal kematian telah tiba, tidak ada seorang pun yang dapat menundanya.

"Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian." (QS Ali Imran [3]: 183). "Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya." (QS An-Nahl [16]: 61).

Kematian bukanlah cara Allah SWT untuk menimpakan sesesuatu yang menyakitkan kepada umat manusia. Tetapi, kematian adalah undangan Allah, agar hamba-hamba-Nya yang beriman untuk segera datang menjumpai-Nya.

Imam al-Ghazali menuturkan, ketika Malaikat Izrail datang hendak mencabut nyawanya, Nabi Musa AS, berkata, "Bagaimana mungkin Sang Kekasih akan tega menyakiti kekasih yang dicintai dan disayangi-Nya?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Malaikat Izrail segera menghadap Allah guna memohon petunjuk-Nya untuk menjawab pertanyaan kritis Nabi Musa itu. Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail untuk kembali lagi menemui Nabi Musa. Ketika Nabi Musa mengajukan pertanyaan yang sama, malaikat Izrail menjawab, "Kekasih mana yang tidak sudi bertemu Kekasihnya, ketika Kekasihnya itu memintanya untuk segera menemuinya?" Mendengar jawaban itu, dengan penuh keceriaan, Nabi Musa mengikhlaskan nyawanya kembali ke hadirat-Nya.

Dari narasi tersebut jelas tergambar bahwa pada hakikatnya kematian merupakan undangan Allah, supaya orang-orang beriman yang dikasihi-Nya, segera datang menjumpai-Nya. Karena itu, pada suatu pagi, ketika dikunjungi Malaikat Izrail di saat sakit, Nabi Muhammad SAW dengan bertanya kepada Malaikat Izrail, "Maksud kedatanganmu ke rumahku pagi ini, hanya untuk berziarah ataukah untuk mencabut nyawaku?"

"Aku datang untuk berziarah sekaligus juga untuk menjemputmu, bila engkau mengizinkannya. Tapi aku akan segera kembali, bila engkau keberatan kujemput hari ini. Ya, Rasul Allah, sampaikanlah kepadaku, apa yang kau ingin kulakukan untukmu hari ini," pinta Malaikat Izrail. "Pertemukanlah aku dengan Tuhanku sekarang juga!" jawab Nabi SAW tanpa ragu.

Orang yang bertakwa kepada Allah, tak perlu merasa takut dengan kematian. Sebab, saat itu pasti akan tiba. Dan saat kematian datang, maka mereka akan tersenyum bahagia, kendati ia akan dilepas dengan derai air mata oleh orang-orang yang menyayanginya.

Bagi orang yang bertakwa, kematian merupakan kesempatan terbaik untuk bertemu dengan Allah. Karena, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia" (QS Al-Dhuha ;93]: 4).







Sabtu, 29 Mei 2010

orang yg didoakan oleh malaikat..

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat
Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

diperkenalkan oleh Bambang irawan via notes facebook.com


Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)



2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' :
Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005







status FB mu, harga dirimu..

Saya tertegun membaca note seorang teman yang dikutipnya dari ISLAMIC LIBRARY “Ketika Iffah mulai luntur” (dibalik fenomena facebook). Sebuah note yang mengusik harga diri, moral etik dan kesantunan dalam komunikasi komunal. Wajah facebook semakin menampilkan make-up penggunanya yang tak terhingga.

Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, facebook semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam rahmatan lil alamin atau aktifitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahyi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus.

Ada pula user yang menjadikan wall-nya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna dibalik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula facebooker yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, facebook tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya.

Yang cukup rawan adalah fasilitas audio visual di facebook. Memang, video, film atau gambar, membuat pesan yang ditampilkan di wall begitu jelas dan hidup. Dalam hitungan detik pesan itu diterima ke seberap pun jumlah relasi dalam pertemanan di account facebook. Namun lagi-lagi, ada video atau potongan film atau gambar yang sangat kental nuansa moral etiknya. Ada pula yang sangat rendah nilai moral etiknya. Maka facebook, seperti sebilah pisau bermata dua. Note teman saya itu membuat saya tersadarkan akan hal itu. Katanya, “STATUS FB KAMU...HARGA DIRIMU”. Sebuah catatan menyindir dan menohok atas status pertemanan di dunia maya.

Berteman pada dasarnya adalah naluri. Siapapun memiliki kecenderungan mencari teman, menerima teman dan ingin diterima dalam status pertemanan. Sebab sifatnya yang naluriah (fitrah) itu, Islam mengajarkan agar pertemanan hendaknya diikat dalam bingkai saling menghormati, menghargai dan masing-masing pihak menjaga kehormatan pribadi orang lain dalam jalinan pertemanannya. Bahkan sangat dianjurkan apabila memilih atau menerima teman diniatkan untuk menjalin sillaturrahim dan persaudaraan. Inilah kerangka dasar pertemanan yang patut dikembangkan ddan diindahkan.

Rambu-rambu jalinan pertemanan yang sehat dan hanif sebenarnya sudah sangat jelas kita miliki dalam khazanah Islam; dien yang kita junjung kemuliaannya. Begitu juga dari sisi kejiwaan maupun nilai-nilai moral. Seyogyanya, seorang facebooker muslim atau muslimah harus setia menampilkan nilai-nilai Islami dan mengembangkannya setiap kali berinteraksi dengan teman di dinding facebooknya. Namun kesadaran demikian belumlah merata dipahami setiap kita.

Memang bagian dari sifat bawaan dalam konteks naluri berteman, manusia memiliki kecenderungan yang beragam. Seseorang memilih teman akan selalu mengikuti kata hati dan kecenderungan yang ada pada dirinya. Setiap orang pastilah begitu. Tetapi kepastian itu beraneka ragam bergantung masing-masing pribadi. Maka dapatlah dimaklumi apabila ada yang menolak berteman dengan seseorang karena menurutnya tidak sesuai dengan type atau selera kecenderungannya. Sebaliknya, ada orang yang baru beberapa saat berkenalan telah merasa akrab sebab keduanya merasa memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Benarlah isi dari sebuah riwayat yang menyatakan:

”Ruh-ruh manusia tersusun laksana prajurit yang berbaris. Mana yang saling kenal (cocok/sesuai/se-ideologi) akan saling berpadu. Dan mana yang saling mengingkari akan berselisih/berpisah.” (HR. Al-Bukhari).

Riwayat ini bukan saja menjelaskan fakta kecenderungan setiap orang dalam memilih teman. Tetapi menjadi dasar untuk mencermati ke mana arah pertemanan itu dibawa. Riwayat ini hemat saya bersesuaian dengan satu riwayat yang menyatakan bahwa:” Setiap yang dilahirkan mengikut fitrah, kemudian ibu bapaknya menjadikannya Yahudi atau Nasrani ataupun Majusi”. Dengan kata lain, seseorang membawa kecenderungan berteman sejak lahir kepada siapa yang cocok dengannya berteman. Dan kecenderungannya semakin berkembang sebab lingkungan pertemanannya mendukung penuh disebabkan persamaan karakter yang melekat pada jiwanya. Apabila lingkungan pertemanannya bernuansa tauhid, maka besar kemungkinan tauhidnya berkembang subur. Tetapi ketika lingkungannya adalah jahil, tidak tertutup kemungkinan ia menjadi layaknya manusia jahiliyah. Karena itu, idiologi seorang teman patut dicermati.

Sebagaimana kita ketahui, sebuah idiologi akan mengikat seseorang dengan amat sangat kuat. Idiologi itu akan mewarnai pola pikir, pola ucap, pola baca, pola tulis dan segala relasinya yang kemudian menjadi pola dalam setiap interaksinya. Sangat mungkin sekelompok orang akan berteman secara komunal dan akrab karena idiologi marxis yang sama-sama mereka anut. Begitu juga orang yang berpaham pluralis, liberalis atau skuleris akan saling merasa cocok satu sama lain karena sebab yang sama. Maka tidaklah aneh, apabila ada pribadi yang merasa risih berdekatan dengan penjudi, pemabuk atau pezina. Bahkan ia ingin berlari sejauh-jauhnya dari mereka lantaran dirinya lebih banyak berkumpul dan merasa dekat dengan orang-orang yang berakhlak kariimah. Sebaliknya juga begitu. Secara naluriah, remaja pelaku dan pegiat maksiat yang akrab dengan narkoba, seks bebas, diskotik dan hiburan malam akan menghindari remaja masjid yang senang berlama-lama di masjid, doyan ngaji dan memperdalam agama yang menjadi idiologinya.

Alangkah relevannya riwayat Imam Ahmad yang dengan amat jernih menegaskan bahwa teman seperti idiologi. Dinyatakan dalam riwayatnya:

”Seseorang akan mengikuti agama/keyakinan sahabat karibnya. Maka hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang menjadi sahabatnya itu.” (HR. Imam Ahmad).

Catatan teman saya yang mengutif sorotan atas beberapa status yang banyak muncul di layar facebook memang boleh dikata sudah tidak wajar. Bahkan terkesan vulgar dan seronok. Mungkin bagi yang merasa cocok karena memiliki kesamaan kecenderungan, status itu dianggap biasa-biasa saja, wajar dan lumrah. Tapi ternyata tidak oleh teman saya, dan saya menilainya pun demikian vulgarnya. Namun bisa jadi karena perbedaan karakter dan kecenderungan, yang menilai vulgar itulah yang dituduh memiliki pikiran ngeres, jorok dan seronok.

Cobalah cermati status berikut yang dikutip teman saya dari “Ketika Iffah mulai luntur” (dibalik fenomena facebook).

Tertulis status seorang wanita:

“Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya ....?”

Sekilas, bunyi status seperti ini memang biasa saja apabila hanya untuk dinikmati sendiri oleh penulisnya. Tetapi ketika status seperti itu dibagikan kepada sekian ribu isi kepala, maka segera akan menjadi masalah. Komentar-komentar lah yang mempertegas bahwa status itu mengundang masalah seperti ditulis salah seorang lelaki yang dalam komentarnya:

”mau ditemanin? Dijamin puas deh…”
Apa yang Anda bayangkan kemudian? Bukankah coretan dinding seperti ini terkesan liar meskipun dapat ditebak arahnya? Lain hal kalau komentar itu berbunyi misalnya,
”minum wedang jahe Mba, pasti menghangatkan”
Atau,
gosok gigi, cuci kaki, ambil selimut tebal, tidur deh”
Bukankah kesan yang ditimbulkannya berbeda dari yang pertama?

Kutipan selanjutnya, seorang wanita lainnya menuliskan statusnya:

“bangun tidur, badan sakit semua, biasa ... habis malam jumat ya begini...”
Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya,
“habis minum jamu nih…., ada yang mau menerima tantangan?
Status dan komentar seperti itu bersahut-sahutan tak terkendali. Sampai kepada status yang berbunyi,
“mau tidur nih, panas banget…bakal tidur pake dalaman lagi nih”
Status kurang elok seperti ini langsung memancing berpuluh2 komentar datang. Ada komentar yang nakal dan bernada melecehkan juga bermunculan. Maka sebuah status jahil, akan di-amin-kan dengan bahasa yang jahil pula. Seperti koor paduan suara, saling sambut penuh "nafsu" mengumandangkan suaranya. Tak disadari, status serta komentar seperti itu laksana interaksi persahabatan tanpa hati nurani dan rasa malu. Fenomena di atas menjadi tanda besar bagi facebooker muslim, bahwa hegemoni ‘kesenangan semu’ yang dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ tengah ditampilkan facebook yang melindas semua rasa malu, tata krama dan kehormatan diri. Inikah ciri khas pertemanan maya?

Lalu terngianglah di telinga bait syair yang ditulis sastrawan Taufik Ismail yang dinyanyikan Chrisye. Chrisye memang telah berpulang ke haribaan Allah. Tetapi pesan dalam lagunya seperti tetap hidup dalam konteks menata diri dalam berbagai spektrum. Sangat relevan saat menulis status di facebook yang menyelamatkan.

Akan datang hari

Mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa

Tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita

Bila harinya

Tanggung jawab, tiba…

Rabbana Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah Kukuhkanlah Di jalan cahaya

Sempurna Mohon karunia

Kepada kami

HambaMu Yang hina

Ketika Tangan dan Kaki Bicara - Chrisye

Menilik secara jujur riwayat Imam Ahmad di muka, sesungguhnya teman adalah cermin dari diri setiap orang. Orang yang berkawan karib dengan pribadi seronok, adalah pantulan bayangan atas cermin dirinya. Begitu pun sebaliknya, senang bergaul dekat dengan orang-orang soleh adalah juga bayangan atas dirinya.

Maka kriteria teman baik dan buruk menjadi sangat jelas. Teman baik bagi seorang muslim adalah teman yang bisa menyelamatkan. Teman yang meneguhkan saat berada di jalan yang lurus dan mengingatkan saat keliru bermain-main di jalan yang salah. Teman baik seperti ini hanya bisa ditemukan pada pribadi yang seiman dan seagama. Sedangkan teman buruk adalah teman yang menjerumuskan pada kehinaan. Teman yang menjauh saat ingat pada kebaikan dan amal saleh, tetapi mengajak semakin jauh tersesat di saat terlena pada kedurhakaan dan maksiat. Dengan demikian, berhati-hati memilih teman, jauh lebih bijak dari sekedar alasan memperbanyak teman tanpa memilah dan memilih siapa di antara semuanya yang layak dijadikan sebagai teman.

Apabila diri kita dianggap sebagai teman, tolonglah teman yang didzalimi dengan memberikannya perlindungan dari kedzaliman. Tolong pula teman yang dzalim dengan menghentikan perbuatan dzalimnya. Dengan begitu kita telah menjadi teman yang baik. Teman yang bukan semata-mata menunjukkan jalan ke surga, tetapi juga teman yang mampu menyelamatkan sahabat dari jilatan api neraka meskipun sebelah kakinya telah tercebur ke jurangnya yang menganga.

Duhai sahabat, mari menulis, menulis yang menyelamatkan

Mari membaca, membaca yang mencerdaskan

Mari berbagi, berbagi yang memuliakan

Depok, April 2010.

abdul_mutaqin@yahoo.com


eramuslim.com







wanita sholihah..

Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.

Mulialah wanita shalihah, Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up-nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran. Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi.

Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah). Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.

Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah pada kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.

Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri. Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.

Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak. Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.

Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.” Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius.

Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita.

semoga bermanfaat..

wallaahu a'lam..

putiaza.wordpress.com







kita (sedang) dalam perjalanan..




kita sedang ada dalam perjalanan pertama..
jalan panjang masih harus kita lalui..
persiapkanlah perbekalan kalian dari sekarang..
perbekalan dalam perjalanan panjang menuju kehidupan yang abadi di sana..

ingat kawan...
kita ((sedang)) dalam perjalanan..


oidz kamizawa







Jumat, 28 Mei 2010

puisi habibie untuk ainun (*cenah)


Puisi Habibie untuk Ainun

Ainun…
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.


Karena..

aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,

aku sangat tahu itu.


Tapi..

yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja,
lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,

hatiku seperti tak di tempatnya,

dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,

rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.


Pada airmata yang jatuh kali ini,

aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir,

pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak mengeluh,

tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.


Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari,
bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,

tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,

kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.


Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.


selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,calon bidadari surgaku ….


B.J. HABIBIE

entahlah..
apakah benar ini puisi karya habibie aseuli ato bukan..
yg jelas kata-kata nya dalam banget..
menyedihkan.. terharu.. bikin mewek.. (*meureun..)
banyak banget copy-an puisi ini di dunia maya sana..

tapi, ya sudahlah..
untuk saat ini tak menjadi sesuatu yg penting tentang siapa pengarang dari puisi itu..
inti yg lebih penting bisa dipetik dari penggalan puisi diatas..
banyak makna terkandung didalamnya..
semoga menjadi inspirasi bagi yg masih hidup di dunia.. :D
sayangi istrimu selagi ia masih ada..

pandanglah wajah istrimu yg tercinta..
bayangkanlah penat lelah yg dirasakan..
namun tak pernah istrimu berkeluh kesah..

mengabdikan jiwa raganya kepadamu..


jangan kau siakan pengorbanannya..

jangan kau sakiti permaisurimu..
jangan biarkan ia bersedih menitikkan air mata..

sebelum detak jantung istrimu berhenti..

kasihi istrimu dengan sepenuh hati..

sebelum istrimu kembali pada tuhan..

sayangi istrimu janganlah kau sakiti..


bahagiakan bidadarimu..

belailah permaisurimu..


istriku sayang, belahan jiwaku..
janganlah engkau bersedih hati..

istriku sayang, permaisuriku..

bidadariku dunia akhirat..


Hawari - Belahan Jiwa






Rabu, 26 Mei 2010

ciri muslimah ahlul jannah..


Ada sebuah catatan yang sangat berharga untuk dijadikan renungan dan hikmah bagi kita semua,
Sebuah catatan tentang "Ciri Muslimah Ahlul Jannah"..

PERTAMA dan KEDUA
" Ridho dengan suami yang telah dijodohkan oleh Alloh SWT dan menjadi istri yang setia terhadap suaminya dikala senang dan susah ".

KETIGA dan KEEMPAT
" Selalu memohon maaf kepada suaminya dan senantiasa taat akan perintah suami selama tidak bertentangan dengan syari'at ".

KELIMA dan KEENAM
" Senantiasa mendahulukan suami dalam segala keadaan atau urusan dan senantiasa menghibur hati suami terutama bila suami dalam kesusahan ".

KETUJUH dan KEDELAPAN
" Bila dipandang senantiasa lemah lembut dan menyenangkan hati suami serta tunduk apabila dihadapan suami ".

KESEMBILAN dan KESEPULUH
" Tidak pernah menolak bila suami memerlukan dirinya kapanpun dan tidak berkhianat terhadap harta, perkara, kehormatan, dsb tatkala suami tidak ada di rumah ".

KESEBELAS dan KEDUABELAS
" Senantiasa hormat kepada suami dan mertua, dan selalu mendo'akan keselamatan serta kesejahteraan untuk suami dan anak-anaknya “.

KETIGABELAS dan KEEMPATBELAS
“ Selalu bersih dan bersolek untuk membahagiakan hati suami bila dipandang, dan tidak pernah menunjukkan wajah yang muram maupun berlaku kasar terhadap suami “.

KELIMABELAS dan KEENAMBELAS
“ Menyambut kedatangan suami dengan senyuman dan mencium tangan suami dengan tulus, dan tidak pernah keluar rumah tanpa izin suami kecuali dalam keadaan sangat darurat “.

semoga manfaat dan barokah
Aamiin Yaa Mujiib





jilbab oh jilbab.. aurat oh aurat..

berjalan-jalan mencoba menghilangkan penat..
disepanjang jalan banyak ku perhatikan ratusan bahkan ribuan wanita lalu lalang dengan segala kesibukannya..
lengkap dengan jilbab / kerudungnya..
namun….???? terasa banyak yang janggal…

hmmmm....
seluruh siswa wajib berjilbab..
ibu2 PNS malu kalo nggak pake jilbab...
para karyawati swastapun dihiasi dengan jilbab….
namun memang tabiat kaum hawa ini memang suka kreatif berdandan…
dan jadilah jilbab dengan aneka RASA (Ragam kain, Aksesoris, Style, wArna)

"you can see my breasts / curves" JILBAB


"you can see my breasts / curves" JILBAB


"you can see my neck" JILBAB


"you can see my shoulders and curves" JILBAB


hehehe... you decide whether this is religion-related or not


"you can see my curves" JILBAB




astagfirullaah.. butt crack!! "G-String" JILBAB


hahahahaha....

jadi kumaha atuh bu ??

kieu weh atuh nyak.. ?!

ayo kita perbaiki bareng-bareng..

dimana seh yang jadi titik kurang berkenannya..



terus...

bagaimana dengan anda?

apakah cara berpakaian anda sudah sesuai dengan Syariat Islam ?

ataukah BELUM ?

udahlah, malu neh kalo masih kaya geto teruz...

Ber-JILBAB tetapi TELANJANG…

Sudah saatnya KITA berbenah diri…

lantas bagaimanakah JILBAB yang benar-benar benar sesuai

dengan ketentuan yang termakktub dalam Al-Qur’an???


teteh yg ini az cantik kalo pake jilbab yg bener


"covered all the body" JILBAB


apalagi kalo asmirandah yang pake jilbab..
ya kaya gini neh jadinye...

subhanallaaaahhh...






selalu mendoakan asmirandah dan kalian semua mendapatkan hidayah..

wallaahu a'lam..


sumber : parvita.wordpress.com , ajo39.wordpress.com dan eidariesky.wordpress.com






surat terbuka jurnalis wanita kristen untuk wanita muslimah..


SURAT TERBUKA JURNALIS WANITA KRISTEN KEPADA WANITA MUSLIMAH..

silahkan






jadilah engkau buminya, maka dia senantiasa menjadi langitmu..


Sejak pernikahan itu, kita sudah berada dalam sebuah ikatan perjanjian yang berat yang disebut dalam Al-Qur'an dengan ' mitsaqon gholizhon '. Begitu beratnya perjanjian tersebut sehingga jika ada yang melanggarnya dengan adanya perceraian ( thalaq ) membuat bergetar nya ARSY' Alloh Swt.

Zaujati....
mungkin engkau sudah mengetahui kisah seorang ibu bernama Umamah binti Al-Harits As-Syai
bani, istri Auf As-Syaibani yang menyampaikan nasehat dan wasiat menjelang putrinya menikah. Jadikanlah nasihat tersebut sebagai pengingat dan penyadar dirimu.

Dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, Umamah binti Al-Harits berkata pada putrinya, " Wahai putriku sayang, sesungguhnya wasiat itu merupakan peringatan bagi orang yang lupa dan bantuan bagi orang yang berakal. Ketahuilah anakku, wanita itu ada untuk menemani laki-laki dan begitu pun dengan laki-laki, ia ada untuk menemani wanita. Wahai putriku, kalau engkau ingin agar pergaulan mu dengan suamimu abadi, maka jadilah engkau 'hamba sahaya'-nya. Jadilah engkau 'bumi'-nya, maka dia senantiasa menjadi 'langit'-mu. Selain itu, peliharalah 10 butir wasiatku ini. Insya Alloh wasiat ini akan menjadi bekalmu dalam mengarungi hidup bersamanya.

PERTAMA DAN KEDUA :
" Terimalah pemberiannya walaupun sedikit dengan penuh rasa syukur, dan perkenankanlah permintaannya dengan penuh rasa hormat dan tulus ".

KETIGA DAN KEEMPAT :
" Perhatikanlah arah dimana matanya dapat tertuju dan hidungnya dapat menghirup. Jangan
sampai kedua matanya melihat sesuatu yang buruk dari penampilanmu, dan jangan pula hidung
nya menghirup kecuali harum semerbak dirimu ".

KELIMA DAN KEENAM :
" Perhatikanlah waktu-waktu makan dan tidurnya. Rasa lapar melahirkan emosi dan kekurangan tidur mengundang amarahnya ".

KETUJUH DAN KEDELAPAN :
" Peliharalah harta bendanya dan perhatikan sanak keluarganya. Prinsip pokok menyangkut harta adalah perhitungan yang teliti, dan dasar utama menyangkut sanak keluarga adalah pelayanan yang mesra ".

KESEMBILAN DAN KESEPULUH :
" Janganlah membangkang perintahnya dan jangan juga membocorkan rahasia nya. Jika ananda
membangkang perintahnya, tertanam benih kebencian dalam dadanya, dan jika membocorkan rahasianya, maka tidak ada lagi terjamin kesetiaannya. Jangan pula menampakkan kegembiraan saat dia gundah gulana atau menampakkan kesedihan saat dia gembira ".

Zaujati....
engkau sudah mendengar wasiat atau nasehat ibu kepada putrinya. Sekarang, dengarkanlah
nasehat dari seorang ayah kepada putrinya. Perhatikanlah nasehatnya yang sangat berharga yang akan disampaikan kepada putrinya tersayang,
" Wahai anakku, hindarilah curiga yang berlebih-lebihan karena itu bisa mendatangkan perceraian. Jangan suka mengomel karena itu bisa merusak cinta kasih. Dan ketahuilah bahwa air wudhu merupakan pembersih yang paling baik! ".

Demikianlah sahabat yang budiman nasehat-nasehat dan wasiat-wasiat kedua orang tua kepada putri yang sangat disayanginya, semoga menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi kita semua untuk perbaikan diri menuju pribadi yang lebih baik.....Aamiin Yaa Mujiib, smoga manfaat!

sumber : Renungan kisah inspiratif





Selasa, 25 Mei 2010

bermimpilah karena ALLAH akan memeluk mimpi-mimpimu.. II


Alkisah tersebutlah seorang penjual kue Lumpia, Pak Bejo namanya. Ia juga seorang pengajar ngaji anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Ia menempati rumah atau lebih tepat disebut kamar kos-kosan sempit, kira-kira berukuran 3 m2. Di kamar itulah dia hidup dengan istri tercintanya. Tempat ia tidur, masak, dan sekaligus juga digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak kecil disekitar tempat tinggalnya. Karena tempat yang sangat sempit itu membuat anak-anak sebelum mengaji harus meminggirkan peralatan yang berada di tempat tersebut. Namun mereka enjoy saja dengan keadaan tersebut.

Suatu hari Pak Bejo berkata pada Istrinya, " Bune seandainya kita bisa membeli tanah di gang depan itu, mungkin anak-anak akan lebih nyaman mengajinya. Kadang saya kasihan melihat anak-anak harus berhimpitan saat mengaji.", angan-angan Pak Bejo. Tanah yang dimaksud adalah sebidang tanah kosong milik Pak Haji Ali berukuran 5 x 11 m, berada kurang lebih 50m dari kos-kosannya. Dan apa jawab istrinya ketika Pak Bejo mengutarakan mimpinya, "Alah Pak, uang apa dan darimana buat beli tanah itu?", sungut istrinya. Pak Bejo hanya diam menanggapi istrinya, dan hati kecilnya membenarkan perkataan istrinya, mengingat pekerjaannya hanya penjual kue Lumpia yang hasilnya hanya pas-pasan buat makan sehari-hari.

Pernah iseng-iseng ia menanyakan harga tanah itu kepada Haji Ali, ternyata harganya sekitar 15 Juta. Lingkungan kos-kosannya memang di daerah terpencil dan kumuh sehingga harga tanah masih sangat murah. Namun walaupun murah dia memang tak mempunyai uang sepeserpun buat beli tanah itu.

Ramadhan kemaren ia berkunjung ke seorang sahabat yang diseganinya, sebut saja Pak Surya. Ia ceritakan tentang keinginannya memiliki sebidang tanah itu, juga jawaban istrinya yang tak ia salahkan. Sobatnya yang memang rada nyentrik ini ternyata cukup marah mendengar ceritanya, " Apa? Uang apa? Apa hanya uang yang kuasa untuk membeli tanah itu?, Jo, Bejo...jangan pernah lalai dengan kehendak Allah, kalau kamu meminta, maka Allah akan berikan, tidak harus dengan uang!", jawab Pak Surya dengan nada tinggi. Pak Bejo sendiri dalam hatinya beristighfar, dia yang notabene guru ngaji saja bisa mengesampingkan kuasa Allah, walaupun dia juga sadar dengan keberadaan dirinya. "Lagipula Jo, bilang pada istrimu, jangan malah memutus rahmat Allah dengan lisannya, keinginanmu memiliki tanah itu adalah do'a, yang tak harus diputus dengan kalimat putus asa seperti istrimu itu. Lebih baik jika ia mengaminkan keinginanmu, bahkan menambah do'a itu 'Semoga Allah mengijabahi', gitu!", tambah Pak Surya yang masih berkata dengan nada tinggi.

"Iya bener Mas, maaf kami memang sedang lalai, akibat keadaan kami yang serba susah, kami jadi kufur nikmat", sesal Pak Bejo.

"Sebaiknya kalian segera bertobat, sholat tobat, dan banyak-banyak istighfar!, bener sampaikan ini pada istrimu ya?!" perintah Pak Surya.

"Baik Mas, kami akan bertobat, Insyaallah saya akan berusaha keras dan berdo'a untuk memiliki tanah tersebut, Bantu do'a ya Mas?" ucap Pak Bejo.

"Nah gitu dong, itu namanya Ustadz Bejo!" kali ini nada suara Pak Surya sedikit melembut dan tersenyum.

"Satu hal lagi Allah ingin melihat usahamu, apakah engkau benar-benar tawakal sebenar tawakal, beda jauh esensinya jika kamu tawakal tapi hanya berdiam diri, hanya berharap-harap thok, itu namanya gombal! Tapi tawakal dengan sepenuh perjuanganmu pasti hasilnya akan lain. Allah tidak membutuhkan hasilmu, tapi Allah ingin melihat proses perjuanganmu, apakah hanya karena Allah saja atau ada kepentingan lain yang terselip di hatimu? nah coba camkan itu ya?" urai Pak Surya panjang lebar.

Pak Bejo hanya mengangguk mengiyakan, dan pamit pulang.

Usaha pertama yang dilakukan Pak Bejo adalah meminjam uang kepada Bosnya, juragan Lumpia yang masih keturunan Tionghoa. Awalnya bosnya menyangsikan kesanggupannya membayar hutang 15 juta, karena ia hanya berdagang kue yang tak seberapa hasilnya. Namun bosnya ini juga bersimpati, dan seorang yang hanif karena demi mendengar alasan Pak Bejo yang ingin membeli tanah itu agar anak-anak didik mengajinya lebih khusyu' belajar, akhirnya meluluskan permintaan Pak Bejo untuk berhutang 15 juta rupiah.

Dengan bekal 15 Juta rupiah yang telah tergenggam, sore itu ia bermaksud segera ke tempat Haji Ali yang notabene adalah tetangga dekatnya untuk membeli tanah dari uang hasil mengutang tadi.

"Assalaamualaikum", salam Pak Bejo dan Istrinya hampir bersamaan.

"Waalaaikum salam warahmatullahiwabarakaatuh", jawab Pak H. Ali.

"Tumben nih!, monggo..monggo silahkan masuk, eh.. iya saya mau tanya, sampeyan masih minat nggak dengan tanah itu?" tanya Pak H. Ali.
"Ya itulah, Pak Haji, maksud kedatangan kami kesini, salah satunya juga masalah tanah itu,"kata Pak Bejo mengawali pembicaraannya.
"Oh gitu..., tapi uang apa yang akan kamu gunakan buat beli?" kata Pak H. Ali. Kalimat itu bukan karena meremehkan kemampuan Pak Bejo, namun sebagai tetangga dekat juga tempat mengutang, Pak H. Ali tahu persis kehidupan keluarga Pak Bejo.

"Udah gini aja ...asalkan kamu janji tanah itu memang kamu peruntukkan bagi tempat mengaji anak-anak, maka tanah itu saya hibahkan buat kamu saja," kata Haji Ali.

Mulut yang akan menyela ketika Pak Haji Ali mempertanyakan uang darimana?, seakan terbungkam dengan kalimat Pak H. Ali yang didengarnya barusan. Pak Bejo dan istrinya seakan tak percaya dengan yang didengarnya barusan.

Begitulah ketika lebaran tiba, ia bersama istrinya bersilaturahmi kerumah sobatnya, Pak Surya. Dengan berlinang air mata ia ceritakan semua peristiwa yang dialami. "Yah itulah pelajaran indah dari Allah untuk kita bercermin. Terlalu sering kita meremehkan hal-hal kecil, kalau memang kita merasa tak mampu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Ingat! setiap keinginan baik dari diri kita adalah do'a dan bagi yang mendengarnya wajib untuk mengaminkan, bukan malah menyangsikannya. Teramat mudah bagi Allah untuk mengabulkan segala keinginan kita, tapi yang terjadi adalah kita malah tak sabar dengan janjiNya yang pasti benar!, ingatlah pelajaran indah ini, dan jadikan jalan kalian untuk selalu bersyukur dengan rahmatNya!" ucap Pak Surya.

Cerpen yang terinpirasi dari oleh-oleh bersilaturahmi ke rumah seorang sahabat dan guru yang nyentrik abis... semoga memberi kekayaan bagi jiwa kami.


sumber : ngerumpi.com

related :







Senin, 24 Mei 2010

bundaku (renungan)


Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda……
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi………
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini……
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang……
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita……
Usia kitapun beranjak perlahan……
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah……???
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,………menyuapi kita………mengantar kita dan menunggui kita……
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah……
Dan kita hanya bermain ketika itu……
Lalu ketika kita beranjak remaja………
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita……
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan……
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas……
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana……
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri………
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru………
Dengan harapan kita akan merasa senang……
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu………..
“Ah….bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja……
Saat kita mengenal cinta akan sesama………
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata……
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita……
Ketika bunda bilang………”Nak…….mestinya kamu sekolah dulu yang benar….jangan dulu berpacaran….””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…
Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa……
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita……
Sekali lagi kita sering membohongi bunda……
dengan mengatakan….”bu……saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….sekian juta..”
Lalu bunda bilang………….”nak…….apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…..”gak bisa bu….harus sekali bayar……..”
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu……
Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.

Pada saat kita lulus kuliah………
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu……tiba-taba….
“Bu….sekarang saya sudah dewasa……saya ingin menikahi si anu……….karena saya mencintai dia………boleh kan bu……..?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Lalu apa jawab kita; ”Bu! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa ibu kasih, saya harap ibu tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa bu, bukan anak kecil yang segalanya harus ibu perhatikan!! !”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.
Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda……
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.
Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya.
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih.

Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini.
Bunda, .aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA.

Maafkan anakmu ya bunda.
Peluk cium anakmu selalu.

sumber : kaskus.us





bagaimana persiapan kaum wanita dalam mendidik anak-anaknya ??

Agar seorang wanita berhasil dalam mengemban tugas dan peran yang sangat mulia itu, maka dia perlu menyiapkan dirinya. Faktor-faktor yang sangat menentukan dalam hal ini, diantaranya:

1. BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRI

Faktor ini sangat penting, karena bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik, kalau dia sendiri tidak memiliki kebaikan tersebut dalam dirinya? Sebuah ungkapan Arab yang terkenal mengatakan:

فاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ

“Sesuatu yang tidak punya (kebaikan dalam dirinya), (maka) tidak bisa memberikan apa-apa”.

Maka kebaikan dan ketakwaan seorang pendidik sangat menetukan keberhasilannya dalam mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan. Oleh karena itu, para ulama sangat menekankan kewajiban meneliti keadaan seorang yang akan dijadikan sebagai pendidik dalam agama.

Dalam sebuah ucapannya yang terkenal Imam Muhammad bin Sirin berkata: “Sesungguhnya ilmu (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu mencapai ketakwaan), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu”.

Faktor penting inilah yang merupakan salah satu sebab utama yang menjadikan para sahabat Nabi menjadi generasi terbaik umat ini dalam pemahaman dan pengamalan agama mereka. Bagaimana tidak? Da’i dan pendidik mereka adalah Rasulullah SAW langsung. Nabi yang terbaik dan manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala, yaitu Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

{وكيف تكفرون وأنتم تتلى عليكم آيات الله وفيكم رسوله}

Bagaimana mungkin kalian (wahai para sahabat Nabi), (sampai) menjadi kafir, karena ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian (sebagai pembimbing)” (QS Ali ‘Imraan:101).

Contoh lain tentang peranan seorang pendidik yang baik adalah apa yang disebutkan dalam biografi salah seorang Imam besar dari kalangan tabi’in, Hasan bin Abil Hasan Al Bashri, ketika Khalid bin Shafwan menerangkan sifat-sifat Hasan Al Bashri kepada Maslamah bin Abdul Malik dengan berkata: “Dia adalah orang yang paling sesuai antara apa yang disembunyikannya dengan apa yang ditampakkannya, paling sesuai ucapan dengan perbuatannya, kalau dia duduk di atas suatu urusan maka diapun berdiri di atas urusan tersebut…dan seterusnya”, setelah mendengar penjelasan tersebut Maslamah bin Abdul Malik berkata: “Cukuplah (keteranganmu), bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat (dalam agama mereka) kalau orang seperti ini (sifat-sifatnya) ada di tengah-tengah mereka?”.

Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’ tentang sedikitnya pengaruh nasehat yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan nasehat yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dalam dirimu sendiri, sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)” .


2. MENJADI TELADAN YANG BAIK BAGI ANAK-ANAK

Menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anak didik termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan.

Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat dihadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan.

Oleh karena itulah, dalam banyak ayat al-Qur’an Allah Ta’ala menceritakan kisah-kisah para Nabi yang terdahulu, serta kuatnya kesabaran dan keteguhan mereka dalam mendakwahkan agama Allah Ta’ala, untuk meneguhkan hati Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengambil teladan yang baik dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,

{وكلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك، وجاءك في هذه الحق وموعظة وذكرى للمؤمنين}

“Dan semua kisah para Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Hud:120).

Syaikh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata,

“Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’ “.

Sehubungan dengan hal ini, imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi. Dari Muqatil bin Muhammad al-’Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”.


3. MEMILIH METODE YANG BAIK UNTUK PENDIDIKAN ANAK

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً}

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).

Termasuk metode pendidikan yang benar adalah membiasakan anak-anak sejak dini melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya, sebelum mereka mencapai usia dewasa, agar mereka terbiasa dalam ketaatan.

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani ketika menjelaskan makna hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan masih kecil, beliau menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah: bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Termasuk (pembinaan) awal yang diharamkan (dalam Islam) adalah memakaikan pada anak-anak kecil pakaian yang menampakkan aurat, karena ini semua menjadikan mereka terbiasa dengan pakaian dan perhiasan tersebut (sampai dewasa), padahal pakaian tersebut menyerupai (pakaian orang-orang kafir), menampakkan aurat dan merusak kehormatan”.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ketika ditanya: apakah diperbolehkan bagi anak kecil, laki-laki maupun perempuan, untuk memakai pakaian pendek yang menampakkan pahanya? Beliau menjawab: “Sudah diketahui bahwa anak kecil yang umurnya dibawah tujuh tahun, tidak ada hukum (larangan menampakkan) bagi auratnya. Akan tetapi membiasakan anak-anak kecil memakai pakaian yang pendek dan menampakkan aurat (seperti) ini tentu akan membuat mereka mudah (terbiasa) membuka aurat nantinya (setelah dewasa). Bahkan bisa jadi seorang anak (setelah dewasa) tidak malu menampakkan pahanya, karena sejak kecil dia terbiasa menampakkannya dan tidak peduli dengannya… Maka menurut pandanganku anak-anak (harus) dilarang memakai pakaian (seperti) ini, meskipun mereka masih kecil, dan hendaknya mereka memakai pakaian yang sopan dan jauh dari (pakaian) yang dilarang (dalam agama)”.

Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam bait syairnya:

Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya

Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh

Senada dengan syair di atas, ada pepatah arab yang mengatakan:

“Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tua pun dia akan terus melakukannya”.


4. KESUNGGUHAN DAN KESERIUSAN DALAM MENDIDIK ANAK

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Anak-anak adalah amanah (titipan Allah Ta’ala) kepada kedua orang tua atau orang yang bertanggungjawab atas urusan mereka. Maka syariat (Islam) mewajibkan mereka menunaikan amanah ini dengan mendidik mereka berdasarkan petunjuk (agama) Islam, serta mengajarkan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia. Kewajiban yang pertama (diajarkan kepada mereka) adalah: menanamkan ideologi (tentang) iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul, hari akhirat, dan mengimani takdir Allah yang baik dan buruk, juga memperkokoh (pemahaman) tauhid yang murni dalam jiwa mereka, agar menyatu ke dalam relung hati mereka. Kemudian mengajarkan rukun-rukun Islam pada diri mereka, (selalu) menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan sifat-sifat bawaan mereka (yang baik), menumbuhkan (pada) watak mereka akhlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh luar yang buruk.

Inilah rambu-rambu pendidikan (Islam) yang diketahui dalam agama ini secara pasti (oleh setiap muslim), yang karena pentingnya sehingga para ulama menulis kitab-kitab khusus (untuk menjelaskannya)…Bahkan (metode) pendidikan (seperti) ini adalah termasuk petunjuk para Nabi dan bimbingan orang-orang yang bertakwa (para ulama salaf)”[29].

Lebih lanjut, syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menekankan pentingnya masalah ini dalam ucapan beliau: “Anak-anak pada masa awal pertumbuhan mereka, yang selalu bersama mereka adalah seorang ibu, maka jika sang ibu memiliki akhlak dan perhatian yang baik (kepada mereka), (tentu) mereka akan tumbuh dan berkembang (dengan) baik dalam asuhannya, dan ini akan memberikan dampak (positif) yang besar bagi perbaikan masyarakat (muslim).

Oleh karena itu, wajib bagi seorang wanita yang mempunyai anak, untuk memberikan perhatian (besar) kepada anaknya dan juga kepada (upaya) mendidiknya (dengan pendidikan yang baik). Kalau dia tidak mampu melakukannya seorang diri, maka dia bisa meminta tolong kepada suaminya atau orang yang bertanggung jawab atas urusan anak tersebut…

Dan tidak pantas seorang ibu (bersikap) pasrah dengan kenyataan (buruk yang ada), dengan mengatakan: “Orang lain sudah terbiasa melakukan (kesalahan dalam masalah) ini dan aku tidak bisa merubah (keadaan ini)”.

Karena kalau kita terus menerus pasrah dengan kenyataan (buruk ini), maka nantinya tidak akan ada perbaikan, sebab (dalam) perbaikan mesti ada (upaya) merubah yang buruk dengan cara yang baik, bahkan merubah yang (sudah) baik menjadi lebih baik (lagi), supaya semua keadaan kita (benar-benar) menjadi baik.

Di samping itu, (sikap) pasrah pada kenyataan (buruk yang ada) adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam syariat Islam. Oleh karena itulah, ketika Allah mengutus Nabi kepada kaumnya yang berbuat syirik (bangsa Arab jahiliyyah), yang masing-masing mereka menyembah berhala, memutuskan hubungan kekeluargaan, berbuat aniaya dan melampaui batas terhadap orang lain tanpa alasan yang benar, (pada waktu itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas (bersikap) pasrah (pada kenyataan yang ada), bahkan Allah sendiri tidak mengizinkan beliau (bersikap) pasrah pada kenyataan (buruk tersebut). Allah memerintahkan kepada beliau:

Maka sampaikanlah (secara terang-terangan) segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah (jangan pedulikan) orang-orang yang musyrik” (QS al-Hijr:94)”.

Penutup

Demikianlah, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada para wanita muslimah, agar mereka menyadari mulianya tugas dan peran mereka dalam Islam, dan agar mereka senantiasa berpegang teguh dengan petunjuk-Nya dalam mendidik generasi muda Islam dan dalam urusan-urusan kehidupan lainnya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

sumber : ustadz chandra







Related Posts with Thumbnails